Kisah perjalanan seorang ODHA di Samarinda.

Kamis, 04 April 2013

|
Tulisan ini saya sertakan dalam proyek buku kedua @isamarinda yang bertajuk #SamarindaUnderAttack


Kisah perjalanan seorang ODHA di Samarinda.


Awalnya saya gak menyangka seorang wanita itu adalah ODHA atau Orang Dengan HIV/AIDS. Saya sendiri bisa bertemu wanita itu di sebuah pelatihan jurnalistik HIV/AIDS beberapa lalu kemaren. Entah mengapa saya begitu jadi ingin banyak tahu tentang kisah ODHA atau  cerita wanita itu sendiri sebagai ODHA. 

Kini wanita itu duduk dikursi tepat menghadap saya. Menceritakan banyak hal tentangnya. Wanita itu memiliki rambut warna hitam yang ikal. dan Kulitnya sawo matang.

Wanita itu berpakaian rapi. Dengan corak bunga – bunga dibajunya. Dia berbicara ramah  terhadap saya dan sesekali tersenyum bila saya mulai bercanda. Matanya yang sayu itu banyak mengambarkan kisah – kisah lalunya yang ingin disampaikannya terhadap saya ketika saya mulai rewel dan banyak bertanya tentangnya. Wanita itu bernama Lulu.

Disini Lulu atau saya sapa Mbak Lulu mulai menceritakan kisahnya sekaligus harapannya tentang kota tercinta saya yaitu Samarinda.

Suatu malam di pertengahan tahun 1994. Suamiku mengajak berbincang diteras orang tuanya. Rumah itu cukup besar. Selain ada orang tuanya juga ada adik – adiknya ujar mbak Lulu. Pada saat itu mereka belum mampu membeli rumah sendiri. Lalu teman – teman mengajak untuk berangkat ke Papua tepatnya kota Merauke. Mengikuti transmigrasi ujar suaminya tanpa melihat ke arah Lulu. Gimana ? mau ikut ? ikut apa enggak ? Lulu hanya diam.

Akhinya pada bulan September dengan ijin orang tua. Lulu dan sang suami ikut transmigrasi dengan harapan mendapat kehidupan yang lebih baik. Namun, bukan kota merauke yang mereka tuju. Karena bus tua yang mereka tumpangi malah membawa mereka ke penampungan transmigrasi.

Waktu menuju daerah transmigrasi mereka menempuh perjalanan sehari. Lulu menambahkan kalau pada saat itu jalan masih berupa tanah dan belum di aspal. Dan ketika mereka tiba disana mereka langsung menempati rumah – rumah yang disediakan dan disana Lulu dan suami sangat hidup hemat karena disana biaya hidup serba mahal.

Disana para transmigrasi mendapat jatah tanah untuk dikerjakan untuk menghasilkan panen. Para transmigrasi termasuk Lulu dan suami menanam sayur, padi dan sebagainya. Namun yang menjadi kendala buruknya infrastruktur membuat hasil panen kami sangat sulit.

Keadaan inilah yang membuat sang suami frustasi. Lokalisasi itu tidak sesuai dengan harapan suamiku ujar mbak Lulu. Sampai akhirnya suamiku mengajak ke kota. Siapa tau di kota bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Akhirnya pada tahun 1995 Lulu beserta suami meninggalkan lokasi transmigrasi dan memutuskan ke kota Merauke.

Sesampai di kota itu mendapat pekerjaan disebuah kapal. Dia menjadi anak buah kapal. Dia bersama teman – temannya menangkap sirip ikan hiu. Aku sendiri sadar akan kerjaan yang dia memiliki beresiko besar. Ya, mau apa dikata. Yang ada sekarang Cuma itu ujar Lulu.

Tapi tiba - tiba timbulah sebuah konflik yang Lulu dan sang suami tidak tau apa pemicunya. Tau – tau sang suami pergi meninggalkannya dengan sebuah kapal. Dan bisa dibilang Lulu pisah terhadap suaminya. Atau bisa dibilang lagi cerai ilegal.

Pada tahun 1997 Lulu menelusuri pelabuhan dengan harapan bisa bertemu dengan sang suami. Tapi yang namanya harapan hanyalah tinggal harapan. dia masih tidak bisa menemukannya saat itu. pikirannya juga terusik dengan bagaimana dia bisa hidup dikota ini. hingga akhirnya. Lulu. Teriak wanita itu seketika mengagetkan lamunanya.

Wanita itu adalah teman dilokasi transmigrasi. Wajahnya lumayan manis. Tingginya hampir sama dengan Lulu. Dia kebih dulu pergi ke kota Merauke mencari pekerjaan. Dia sudah lima tahun tinggal dikota Merauke. Mendengar kisah sedih Lulu, dia menawarkan “ pekerjaan “ ujar  lulu masih bercerita kepada saya.

Lulu ikut temannya ketempat kerjaan yang ditawarkan kepadanya. Dia sangat terbuai dengan kata – kata manis temannya itu. Temannya bilang ada sebuah warung makan yang mau menerimanya berkerja disitu. Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam menuju tempat yang dimaksud. Suasana tidak seperti yang dibilang tadi.

Yang nampak malah sebuah rumah besar dengan kamar bersekat – sekat dan minibar yang terpajang diruang tamu. Lulu jadi bertanya – tanya dalam hati. Katanya warung makan tapi kenapa banyak cewek berpakaian minim. Belum lagi alunan musik keras yang menghentak kedua telinga dan ditambah lagi kepulan asap rokok yang menebar kemana – mana hingga membuat ruangan penuh asap rokok. Dengan mempunyai sedikit keberanian, Lulu bertanya kepada seseorang disana. Mbak permisi saya mau tanya, kalau boleh tau ini tempat apa ya ?  mbak itu terheran – heran dan dia memberika jawaban. “ ini tempat pelacuran “  mendengar jawaban itu mbak lulu merasa jantungnya berhenti terdetak. Tapi dia segera tersadar, mau mundur rasanya tidak mungkin.

Sejak hari itu Lulu mulai terbiasa memakai pakaian minim dan merias diri didepan cermin. Demi melayani “ tamu “ yang berkunjung ke “ wisma “. Wisma tempat Lulu bekerja terdiri dari 16 kamar dan beberapa ruang tamu untuk menjamu pelanggan. Lulu menambahkan dalam sehari paling tidak ada tiga pria kesepian membutuhkan jasanya. Sekali kencan, Lulu paling sedikit memperoleh dua ratus ribu rupiah. Bahkan tak jarang mereka membayar hingga empat ratus ribu rupiah. Sebuah angka yang sangat besar pada saat itu. Uang hasil kerja keras itulah Lulu kirim kekeluarga guna biaya keperluan anaknya yang memerlukan susu.

Tiba – tiba saya kaget mendengar mbak Lulu bercerita tentang anak. Dia punya anak ? bukankah dari tadi tidak ada penjelasan tentang anak ? kemudian mbak Lulu menjelaskan cerita anaknya itu dan kita sedikit flasback sebentar.

Suatu malam Lulu dan suami sedang jalan – jalan dipinggiran laut sambil menikmati deburan ombak dan angin malam. Mereka duduk dihamparan pasir yang sangat luas. Tanpa disengaja Lulu mendengar suara tangis bayi. Suara itu sayup – sayup terdengar. Mereka mulai menghampiri tempat dimana suara itu terdengar. Sampai akhirnya mereka menemukan sebuah karton bekas mie instan dan dengan tidak sabar mereka membuka karton penutup itu. Dan mereka kaget sekali menemukan sosok bayi yang masih merah.

Begitulah cerita tentang bayi tersebut. Bayi itu di asuh sang keluarga dengan alasan saat mereka berangkat transmigrasi tidak boleh membawa bayi. Kemudian saya meminta mbak Lulu melanjutkan cerita sewaktu lokalisasi tadi. Tanpa ragu mbak Lulu mulai bercerita lagi kepada saya.

Tanpa terasa enam tahun sudah Lulu bekerja sebagai pelacur. Berbagai pria yang pernah singgah di wisma tidak pernah dia tolak. Hingga suatu malam nafasnya terasa sesak, batuk berkepanjangan tidak kunjung sembuh meski sudah berbagai macam obat batuk sudah ia minum. Tiba – tiba saja kepalanya mendadak berat lampu kamar terasa berputar. Lalu tiba – tiba semunya nampak hitam pekat. Ketika dia membuka mata, nampak olehnya teman – teman memandang dengan tatapan cemas. Rupanya Lulu pingsan dan dibawa teman – temannya ke klinik yang letaknya tidak begitu jauh dari tempatnya bekerja.

Lalu tahun 2003 dibulan september ini awal malapetaka yang datang tiba – tiba sakit yang tidak kunjung sembuh membuatnya diliputi rasa ketakutan luar biasa. Dia terbaring sakit dan otomatis tidak bisa melayani tamu seperti biasa. Tiba – tiba datang seorang petugas dari yayasan menyuruhnya untuk memeriksakan keadaan Lulu. Tapi Lulu sempat bertanya apa ada resikonya yang akan dia terima. Mengingat dia punya penyakit bawaan dari kecil yaitu jantung. Dan petugas itu mengatakan kamu tidak perlu takut darah kamu Cuma diambil berapa saja. Kalau kamu bersedia besok ada dua orang yang mau tes darah. Kita berangkat sama – sama.

Besok paginya Lulu dan dua orang temannya yang ditemani petugas yayasan kerumah sakit untuk melakukan tes.  Esoknya mereka kembali kerumah sakit umum Merauke lagi untuk mengetahui hasil tes mereka. Didepan meja dokter tergeletak tiga lembar amplop. Dimasing – masing amplop tertera kode angka sama nama. Temannya mendapat panggilan pertama lalu disusul oleh teman keduanya. Lulu masih harap – harap cemas menunggu namanya dipanggil. Setelah dua orang sudah berada diluar. Kini gilirannya dipanggil. Lulu langsung duduk dan dokter menyakan apa betul namamu Lulu. Betul jawabnya Lulu dengan siap. Setelah berulang – ulang kali diberikan pertanyaan yang sama. Lulu langsung bilang ke dokter. “ sudah deh apapun hasilnya saya sudah siap “ melihat cara Lulu bebicara, dokter langsung bilang “ kamu positif HIV “ mendengar itu Lulu serasa mau runtuh dan mau pingsan. Dokter juga memberi nasihat kepadanya, kamu tarik nafas kalau teman – teman kamu tanya, bilang saja hasil kamu negatif. Lulu pun mengikuti saran itu dan begitu dia di tanya oleh teman – temannya, dia langsung memberikan jawaban negatif lalu mereka kembali ke wisma seperti biasa.

Tentu saja setelah membaca surat itu Lulu tidak bisa tidur. Bantal yang dia pakai basah oleh air mata. Kini yang ada dalam pikirannya hanyalah kematian. Malaikat pencabut nyawa begitu dekat dengannya yang dia tahu tentang AIDS hanyalah kematian. Penyakit kotor, kutukan dan pengucilan. Sejak hari itu hingga seminggu lebih dia jarang keluar kamar. Kerjaanya merenung, menangis dan hanya bisa menatap nasib.
Tepat sebulan setelah dia dinyatakan positif HIV/AIDS. Lulu mengambil jalan pintas dengan cara meneguk cairan pembasmi serangga dan obat nyamuk bakar. Dengan cara bisa mengakhiri hidupnya tapi sayang tuhan berkehendak lain.

Dia tidak mati selama seminggu. Dia malah tergeletak dirumah sakit merauke setelah mencoba bunuh diri. Bukan Cuma sampai itu saja usahanya. Dia sudah mencoba dua kali untuk bunuh diri dan tetap saja tuhan masih memberikan kehidupan untuknya. Masih memberi kesempatan yang lebih baik untuknya.

Berkat kesabaran teman – temannya dan beberapa petugas yang memberi pemahaman HIV/AIDS Kepadanya. Dan dia juga banyak sharing dengan teman – teman yang bernasib sama. Dia bergabung di yayasan merauke support group. Dia mulai sering dilibatkan dalam kegiatan apapun. Dia juga pernah bicara diforum publik. pada saat malam renungan nusantara pada tahun 2004 itu pertama kalinya dia berbicara terbuka didepan publik.

Hari – hari berikutnya dia disibukkan dengan kegiatan yayasan merauke support group. Dia berusaha menambah pengetahuan tentang HIV/AIDS. Membagi pengalaman. Sehingga kondisi ini membuat teman – temannya percaya akan perubahan Lulu. Kegitan ini membuatnya terdengar hingga kampung halaman.

Sampai suatu hari dia pulang ke kampung halaman untuk bertemu anak semata wayangnya. Tapi bukan sambutan yang manis didapatkan saat dia pulang. Melainkan pertanyaan macam – macam seperti apakah kamu kerja di tempat pelacuran. Sampai benarkah kalau Lulu mengidap HIV/AIDS. Semua pertanyaan itu jawab jujur oleh Lulu. Ibunya akhirnya melontarkan kata – kata “ Ibu lebih baik kehilangan anak yang kena HIV/AIDS “. Kata – kata itu sangat menyakitkan. Ibu Lulu itu tau statusnya yang sebenarnya dari mulut teman Lulu yang berbicara langsung pada Ibunya. Dia juga tidak sempat menemui anaknya karena anaknya sudah tiada lagi di dunia ini.

Akhirnya dia ke Jakarta dan menumpang di yayasan Jakarta selama satu minggu. Dia banyak belajar dari yayasan itu tentang HIV/AIDS disana.  Banyak hal yang yang bisa dia petik  sebagai pelajaran. Tapi alangkah baiknya jika pengetahuan ini dia sebarkan keseluruh daerah lain ujarnya. Setelah berdiskusi dan akhirnya memutuskan untuk ke Jayapura.

Di Jayapura tepatnya tahun 2005. Dia mulai bergabung di kelompok dukungan sebaya jayapura. Dia banyak sharing dengan teman – teman senasib dan menjalani terapi kembali disana.

Tahun 2006 Lulu mulai menginjakan kaki di Samarinda. Dia sempat menjadi pembantu rumah tangga selama satu tahun dan sampai sekarang seisi rumah tidak tahu tentang keberadaan dia sebenarnya. Sekarang selain dia mempunyai pekerjaan baru, dia juga masih aktif di berbagai kegiatan tentang HIV/AIDS disamarinda.

Dan dia juga membentuk kelompok dukungan sebaya atau KDS Mahakam plus. Kelompok itu dibentuk oleh Lulu dan teman – temannya dalam beberapa elemen seperti PMI, PKBI, KPA dan pihak rumah sakit. Selain sebagai kordinator mahakam plus, dia sebagai konselor sebaya.

Lalu ketika saya bertanya apakah ada harapan mbak Lulu selama tinggal di Samarinda ? apakah ada yang ingin disampaikan kepada kota tercinta ini. Mbak Lulu tersenyum lalu mulai berbicara lagi.

Harapan Lulu kepada warga samarinda khususnya para remaja. Hindarilah sex bebas karena itu bisa beresiko HIV/AIDS. Juga jarum suntik bergantian. Juga kepada pemerintah untuk bantuannya. Selama ini mana ? masa kalah dengan Anjal ujarnya. jangan melulu dengan obat. Emang HIV/AIDS ada obatnya ?

Juga sediakanlah rumah singgah buat kami. Masa kita kalah sama daerah lain yang memiliki rumah singgah. Karena salah satu dari saya bila datang dari luar kota larinya bakal kemana katanya sambil penuh harapan.

Setelah berkata seperti itu, saya bertanya lagi apa yang membuat mbak bisa kuat menjalani hidup ini ? dia tersenyum lalu berkata.

“  saya sedang menikmati sisa hidup ini dan teruslah melihat kedepan walaupun sesekali  boleh liat kebelakang tapi jangan melihat kebelakang terus “

Saya terdiam mendengar itu lalu saya iseng bertanya kepadanya “ kalau liat kebelakang terus kenapa mbak ? lalu dia menjawab “ bisa ketabrak “ dan kami tertawa bersama sekaligus menutup obrolan kami.







0 komentar:

Posting Komentar

About Me

Foto saya
Samarinda, Indonesia
Tulisan saya sudah diantologikan antara lain : Samarinda Bekesah (NulisBuku 2013) Samarinda Under Attack (leutikaprio 2013)

Karya Terbaru


Followers

hit counter

Website counter

Klik Indonesia