April Pasti Berlalu

Selasa, 30 April 2013

| 0 komentar
selamat pagi. kali ini saya menulis apa adanya. dalam arti bodo amat jelek atau bahasanya kacau balau bak seseorang kehilangan korek apinya.

jadi saya turut mengucapkan selamat tinggal dan sampai jumpa kembali wahai bulan april. sampai ketemu tahun depan. tentunya dalam keadaan sehat sentosa. amin

bulan kelahiran kali ini saya mulai pengen menata hidup pelan - pelan. emang kamu lagi kacau, yo ?
gak, maksudnya menata, mungkin memperbaiki cara berpikir pelan - pelan. karena sesungguhnya " tua itu pasti dan dewasa itu pilihan ". nah, tapi disisi lain saya pengen masih menjadi anak - anak yang terperangkap dalam tubuh dewasa. saya masih ingin bermain dengan imajinasi saya. masih.

ada tiga point yang menemani saya saat menginjak umur dua puluh satu. seperti..

Stand up comedy

berkat ini. saya tidak canggung dalam berbicara didepan banyak orang. comedy adalah salah satu point paling berpangaruh dalam hidup saya. hal paling menyenangkan adalah membuat orang terhibur tapi terkadang untuk menghibur diri sendiri adalah paling susah.

Musik.

bisa dibilang saya besar disini. musik banyak membuat saya berkenalan dengan banyak orang. banyak sekali. saya pun mulai mendapatkan banyak dokumentasi perjalanan musik saya dalam bentuk Cd, kaset, video dan dll. terakhir, saya menyesal sempat meninggalkan bidang ini karena suatu alasan bodoh. bodoh sekali.

Menulis.

nah, saya adalah orang yang mempunyai mimpi suatu hari akan menjadi penulis dan punya sebuah buku.
walaupun masih dalam proses. setidaknya saya sudah membuktikan saya tidak angin - anginnya dalam bidang ini. saya sudah mulai menikmati kerja keras saya. dan saya janji akan terus menulis walau semangat itu sempat hilang.

bisa dibilang saya sudah sangat puas dengan apa di raih di berbagai bidang yang saya tekuni. tapi, ada yang kurang. sangat kurang. apa itu ? ternyata sebenarnya saya kurang bersyukur dengan apa saya terima selama ini. harusnya saya bersyukur. tapi sebenarnya apa yang harus di syukuri ? bisa di bilang hal yang paling di syukuri dan kado paling tak ternilai adalah kalian semua. keluarga dan teman - teman saya.

hal itulah yang harus liat. saya punya orang - orang dekat yang selalu memberi cerita dalam hidup saya. menyenangkan sekali bisa mengenal mereka. sangat menyenangkan.

saya hampir nangis saat melihat ini.. bukan karena terharu melainkan kok kuenya kecil

dua minggu setelah hari burung itu. teman - teman @smd_ electricity juga membantu merayakannya di sebuah cafe bernama rep camp. ada Happy, Odong, Een, dan Jojo yang beraksi sebelum saya dan @karathitam. oh iya, karena saya dan @karathitam sama ulang tahunnya makanya sama - sama dirayakan dan dia main bersama saya. terima kasih buat kalian ya :D

mungkin kalian bingung tulisan ini loncat - loncat dan tidak beraturan. gak papa. saya juga bingung kok hhe. kan sudah saya bilang cuma pengen nulis aja hhe.
READ MORE - April Pasti Berlalu

Kegoisan tulisan di pagi hari

Sabtu, 27 April 2013

| 0 komentar
Hujan mengguyur pagi hari yang elok. membuat hari semakin dingin. begitu dingin sekali.
saya terbangun dan sesekali membersihkan kotoran - kotoran yang menyelip di sebuah indra pengeliatan.
dan rokok itu kembali menyala. membuat ruangan kembali di hiasi asap - asap yang kadang membuat perih di mata.

kata - kata mulai dibangun dalam sebuah tulisan. tidak ada yang harus di tulis pagi ini.
tidak ada yang harus di ceritakan pagi ini.
seperti sesuatu yang lama ingin di ceritakan. begitu hambar dan terasa usang.
tapi, tangan ini tetap menulis.

tahukah kalian ?
semangat menulis itu perlahan - lahan hilang. seperti sebuah timeline dari seseorang yang kita tunggu tak kunjung datang..
tapi saya harus menulis. saya tidak tahu kenapa ?
seperti sebuah keharusan dan seperti rutinitas yang wajib diselesaikan setiap harinya.

tahukah kalian ? sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik...
seperti sebuah hubungan yang lama bersemi tapi masing - masing dari mereka tahu ini tidak baik dilanjutkan..
begitu juga dengan tulisan...

hujan yang begitu deras tadi telah reda..
matahari juga mulai muncul dengan malu - malu..
padahal tadi sang hujan mengejek saya. karena, dia tahu saya telah mengabaikan beberapa tugas yang harus di selesaikan.
harus diselesaikan..

tapi..
biarlah, biarkan saya terlarut dalam kedamaian walau sebentar.
biarkan saya terlarut dalam canda tawa yang lama tak dirasakan....
walaupun saya tahu. ini sangat berbeda..
sangat berbeda..

rokok itu mulai menyala kembali..
tulisan pun harus di hentikan..
dan ego juga yang membuat tulisan ini begitu mengalir..
padahal sang penulis tidak ingin menulis.
sama sekali tidak ingin..



READ MORE - Kegoisan tulisan di pagi hari

Dia didalam kebiasaan kecilnya

Minggu, 14 April 2013

| 0 komentar
Punggungnya terasa begitu berat. tapi, dia masih saja berusaha tegak menatap layar laptop dimeja kesayangannnya itu. duduk dikursi tanpa ada sandarannya itu tidak enak disaat begini protesnya.

dia sedang berusaha menuliskan beberapa kata diblognya. sangat sulit untuknya berfikir disaat begini. sampai sekarang dia tidak tau mau menuliskan tentang apa. tapi, tanganya tetap mengetik huruf - huruf yang tidak penting di draft yang tadi semula kosong.

kali ini dia menghisap rokok yang dari tadi dibiarkannya menyala diasbak. beberapa hembusan asap dilontarkan dari bibirnya. lalu dia menaruh rokok itu diasbak dan melanjutkan tulisannya kembali.

rupanya sulit juga, ya. menulis disaat begini batinnya. tapi dia tak peduli. dia sudah bingung hendak melakukan apa. karena sesuatu yang ditunggunya tak kunjung datang.

saya sarankan jangannya mengajaknya bicara. dia akan lambat sekali meresponnya. kadang, dia juga tertawa lepas kalau mendengar sesuatu yang aneh baginya tapi biasa saja bagi kita.

beginilah keadaannya disaat dia dalam keadaan seperti ini. kini dia lagi tersenyum melihat tulisannya. karena, sudah sampai dimana dia harus mengakhiri karena otaknya begitu lambat bekerja.
READ MORE - Dia didalam kebiasaan kecilnya

Ketika Kehilangan

Jumat, 12 April 2013

| 2 komentar
ketika kehilangan jas hujan.
otomatis mengendarai motor saat hujan kita kehujanan tanpanya.

ketika kehilangan korek.
saat menyalakan rokok bingung pake apa..
kecuali beli lagi.

ketika kehilangan sepatu sebelah..
otomatis cuma pake sebelahnya...

ketika kehilangan waktu istirahat..
otomatis gak jadi istiharat..

ketika kehilangan kunci motor..
berarti kunci motornya hilang..

ketika kehilangan kamu..
akhirnya aku tau rasanya kehilangan :))
READ MORE - Ketika Kehilangan

Talkshow #SmrBekesah @ Kaltim Fair 2013

Selasa, 09 April 2013

| 1 komentar
Halooooooooooo.

ini pengalaman saya Talkshow buku pertama kali. ketika saya menanyakan perasaan kepada diri sendiri gimana rasanya talkshow ? ya, seneng habis :D
selain saya, ada penulis lainnya yang hadir seperti Kaka Akin (@kakaakin) dan Aprie (@aprie), juga Rian (@tweetrian
berikut beberapa dokumentasi yang saya kumpulkan dan kebanyakan dari Isamarinda 

Saya, @ayuantkwhy dan @reza_fx yang menyelinap. ini foto sebelum Talkshow

Mc : sudah punya pacar ? | saya : rahasia


Mata saya terkena iritasi ringan

Terakhir ada videonya loh. kurang alay apa coba kami :D




READ MORE - Talkshow #SmrBekesah @ Kaltim Fair 2013

Bulan ke empat itu bernama April

Minggu, 07 April 2013

| 0 komentar
Selamat datang bulan April. silahkan masuk dan mau minum apa ? teh ? kopi ? atau air raksa ? apapun itu jangan teh botol sosro ya. hhe.

Alhamdullilah, saya masih bisa bertemu bulan ini. bulan yang selalu saya tunggu. bulan yang saya cintai. bulan dimana terdapat tanggal kelahiran saya kembali.

Di bulan ini saya masih belum tau apa yang sebenarnya saya cari. saya sudah mencoba berbagai bidang sesuai hobby saya. tapi, saya masih belum ketemu yang mana ? hmmmm.

masih banyak keinginan saya yang belum terkabul. atau bisa dibilang saya masih belum puas dengan semua ini. tapi, bukannya manusia harusnya bersyukur dengan kekurangan dan kelebihan yang ia miliki. apa ini bisa dibilang saya termasuk manusia yang kurang bersyukur ? entahlah.

saya juga masih belum menemukan lampu cahaya atau pembawa terang. gak tau itu siapa ? tapi, mungkin saja saya menemukan terang seperti yang dijanjikan. karena sekali lagi yang sempurna itu banyak tapi yang nyaman dan bisa bikin ketawa itu jarang.

ok, tanggal 18 April hanya hitungan hari. semoga saya menemui hari itu dengan keadaan sehat. amin.




READ MORE - Bulan ke empat itu bernama April

Kisah perjalanan seorang ODHA di Samarinda.

Kamis, 04 April 2013

| 0 komentar
Tulisan ini saya sertakan dalam proyek buku kedua @isamarinda yang bertajuk #SamarindaUnderAttack


Kisah perjalanan seorang ODHA di Samarinda.


Awalnya saya gak menyangka seorang wanita itu adalah ODHA atau Orang Dengan HIV/AIDS. Saya sendiri bisa bertemu wanita itu di sebuah pelatihan jurnalistik HIV/AIDS beberapa lalu kemaren. Entah mengapa saya begitu jadi ingin banyak tahu tentang kisah ODHA atau  cerita wanita itu sendiri sebagai ODHA. 

Kini wanita itu duduk dikursi tepat menghadap saya. Menceritakan banyak hal tentangnya. Wanita itu memiliki rambut warna hitam yang ikal. dan Kulitnya sawo matang.

Wanita itu berpakaian rapi. Dengan corak bunga – bunga dibajunya. Dia berbicara ramah  terhadap saya dan sesekali tersenyum bila saya mulai bercanda. Matanya yang sayu itu banyak mengambarkan kisah – kisah lalunya yang ingin disampaikannya terhadap saya ketika saya mulai rewel dan banyak bertanya tentangnya. Wanita itu bernama Lulu.

Disini Lulu atau saya sapa Mbak Lulu mulai menceritakan kisahnya sekaligus harapannya tentang kota tercinta saya yaitu Samarinda.

Suatu malam di pertengahan tahun 1994. Suamiku mengajak berbincang diteras orang tuanya. Rumah itu cukup besar. Selain ada orang tuanya juga ada adik – adiknya ujar mbak Lulu. Pada saat itu mereka belum mampu membeli rumah sendiri. Lalu teman – teman mengajak untuk berangkat ke Papua tepatnya kota Merauke. Mengikuti transmigrasi ujar suaminya tanpa melihat ke arah Lulu. Gimana ? mau ikut ? ikut apa enggak ? Lulu hanya diam.

Akhinya pada bulan September dengan ijin orang tua. Lulu dan sang suami ikut transmigrasi dengan harapan mendapat kehidupan yang lebih baik. Namun, bukan kota merauke yang mereka tuju. Karena bus tua yang mereka tumpangi malah membawa mereka ke penampungan transmigrasi.

Waktu menuju daerah transmigrasi mereka menempuh perjalanan sehari. Lulu menambahkan kalau pada saat itu jalan masih berupa tanah dan belum di aspal. Dan ketika mereka tiba disana mereka langsung menempati rumah – rumah yang disediakan dan disana Lulu dan suami sangat hidup hemat karena disana biaya hidup serba mahal.

Disana para transmigrasi mendapat jatah tanah untuk dikerjakan untuk menghasilkan panen. Para transmigrasi termasuk Lulu dan suami menanam sayur, padi dan sebagainya. Namun yang menjadi kendala buruknya infrastruktur membuat hasil panen kami sangat sulit.

Keadaan inilah yang membuat sang suami frustasi. Lokalisasi itu tidak sesuai dengan harapan suamiku ujar mbak Lulu. Sampai akhirnya suamiku mengajak ke kota. Siapa tau di kota bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Akhirnya pada tahun 1995 Lulu beserta suami meninggalkan lokasi transmigrasi dan memutuskan ke kota Merauke.

Sesampai di kota itu mendapat pekerjaan disebuah kapal. Dia menjadi anak buah kapal. Dia bersama teman – temannya menangkap sirip ikan hiu. Aku sendiri sadar akan kerjaan yang dia memiliki beresiko besar. Ya, mau apa dikata. Yang ada sekarang Cuma itu ujar Lulu.

Tapi tiba - tiba timbulah sebuah konflik yang Lulu dan sang suami tidak tau apa pemicunya. Tau – tau sang suami pergi meninggalkannya dengan sebuah kapal. Dan bisa dibilang Lulu pisah terhadap suaminya. Atau bisa dibilang lagi cerai ilegal.

Pada tahun 1997 Lulu menelusuri pelabuhan dengan harapan bisa bertemu dengan sang suami. Tapi yang namanya harapan hanyalah tinggal harapan. dia masih tidak bisa menemukannya saat itu. pikirannya juga terusik dengan bagaimana dia bisa hidup dikota ini. hingga akhirnya. Lulu. Teriak wanita itu seketika mengagetkan lamunanya.

Wanita itu adalah teman dilokasi transmigrasi. Wajahnya lumayan manis. Tingginya hampir sama dengan Lulu. Dia kebih dulu pergi ke kota Merauke mencari pekerjaan. Dia sudah lima tahun tinggal dikota Merauke. Mendengar kisah sedih Lulu, dia menawarkan “ pekerjaan “ ujar  lulu masih bercerita kepada saya.

Lulu ikut temannya ketempat kerjaan yang ditawarkan kepadanya. Dia sangat terbuai dengan kata – kata manis temannya itu. Temannya bilang ada sebuah warung makan yang mau menerimanya berkerja disitu. Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam menuju tempat yang dimaksud. Suasana tidak seperti yang dibilang tadi.

Yang nampak malah sebuah rumah besar dengan kamar bersekat – sekat dan minibar yang terpajang diruang tamu. Lulu jadi bertanya – tanya dalam hati. Katanya warung makan tapi kenapa banyak cewek berpakaian minim. Belum lagi alunan musik keras yang menghentak kedua telinga dan ditambah lagi kepulan asap rokok yang menebar kemana – mana hingga membuat ruangan penuh asap rokok. Dengan mempunyai sedikit keberanian, Lulu bertanya kepada seseorang disana. Mbak permisi saya mau tanya, kalau boleh tau ini tempat apa ya ?  mbak itu terheran – heran dan dia memberika jawaban. “ ini tempat pelacuran “  mendengar jawaban itu mbak lulu merasa jantungnya berhenti terdetak. Tapi dia segera tersadar, mau mundur rasanya tidak mungkin.

Sejak hari itu Lulu mulai terbiasa memakai pakaian minim dan merias diri didepan cermin. Demi melayani “ tamu “ yang berkunjung ke “ wisma “. Wisma tempat Lulu bekerja terdiri dari 16 kamar dan beberapa ruang tamu untuk menjamu pelanggan. Lulu menambahkan dalam sehari paling tidak ada tiga pria kesepian membutuhkan jasanya. Sekali kencan, Lulu paling sedikit memperoleh dua ratus ribu rupiah. Bahkan tak jarang mereka membayar hingga empat ratus ribu rupiah. Sebuah angka yang sangat besar pada saat itu. Uang hasil kerja keras itulah Lulu kirim kekeluarga guna biaya keperluan anaknya yang memerlukan susu.

Tiba – tiba saya kaget mendengar mbak Lulu bercerita tentang anak. Dia punya anak ? bukankah dari tadi tidak ada penjelasan tentang anak ? kemudian mbak Lulu menjelaskan cerita anaknya itu dan kita sedikit flasback sebentar.

Suatu malam Lulu dan suami sedang jalan – jalan dipinggiran laut sambil menikmati deburan ombak dan angin malam. Mereka duduk dihamparan pasir yang sangat luas. Tanpa disengaja Lulu mendengar suara tangis bayi. Suara itu sayup – sayup terdengar. Mereka mulai menghampiri tempat dimana suara itu terdengar. Sampai akhirnya mereka menemukan sebuah karton bekas mie instan dan dengan tidak sabar mereka membuka karton penutup itu. Dan mereka kaget sekali menemukan sosok bayi yang masih merah.

Begitulah cerita tentang bayi tersebut. Bayi itu di asuh sang keluarga dengan alasan saat mereka berangkat transmigrasi tidak boleh membawa bayi. Kemudian saya meminta mbak Lulu melanjutkan cerita sewaktu lokalisasi tadi. Tanpa ragu mbak Lulu mulai bercerita lagi kepada saya.

Tanpa terasa enam tahun sudah Lulu bekerja sebagai pelacur. Berbagai pria yang pernah singgah di wisma tidak pernah dia tolak. Hingga suatu malam nafasnya terasa sesak, batuk berkepanjangan tidak kunjung sembuh meski sudah berbagai macam obat batuk sudah ia minum. Tiba – tiba saja kepalanya mendadak berat lampu kamar terasa berputar. Lalu tiba – tiba semunya nampak hitam pekat. Ketika dia membuka mata, nampak olehnya teman – teman memandang dengan tatapan cemas. Rupanya Lulu pingsan dan dibawa teman – temannya ke klinik yang letaknya tidak begitu jauh dari tempatnya bekerja.

Lalu tahun 2003 dibulan september ini awal malapetaka yang datang tiba – tiba sakit yang tidak kunjung sembuh membuatnya diliputi rasa ketakutan luar biasa. Dia terbaring sakit dan otomatis tidak bisa melayani tamu seperti biasa. Tiba – tiba datang seorang petugas dari yayasan menyuruhnya untuk memeriksakan keadaan Lulu. Tapi Lulu sempat bertanya apa ada resikonya yang akan dia terima. Mengingat dia punya penyakit bawaan dari kecil yaitu jantung. Dan petugas itu mengatakan kamu tidak perlu takut darah kamu Cuma diambil berapa saja. Kalau kamu bersedia besok ada dua orang yang mau tes darah. Kita berangkat sama – sama.

Besok paginya Lulu dan dua orang temannya yang ditemani petugas yayasan kerumah sakit untuk melakukan tes.  Esoknya mereka kembali kerumah sakit umum Merauke lagi untuk mengetahui hasil tes mereka. Didepan meja dokter tergeletak tiga lembar amplop. Dimasing – masing amplop tertera kode angka sama nama. Temannya mendapat panggilan pertama lalu disusul oleh teman keduanya. Lulu masih harap – harap cemas menunggu namanya dipanggil. Setelah dua orang sudah berada diluar. Kini gilirannya dipanggil. Lulu langsung duduk dan dokter menyakan apa betul namamu Lulu. Betul jawabnya Lulu dengan siap. Setelah berulang – ulang kali diberikan pertanyaan yang sama. Lulu langsung bilang ke dokter. “ sudah deh apapun hasilnya saya sudah siap “ melihat cara Lulu bebicara, dokter langsung bilang “ kamu positif HIV “ mendengar itu Lulu serasa mau runtuh dan mau pingsan. Dokter juga memberi nasihat kepadanya, kamu tarik nafas kalau teman – teman kamu tanya, bilang saja hasil kamu negatif. Lulu pun mengikuti saran itu dan begitu dia di tanya oleh teman – temannya, dia langsung memberikan jawaban negatif lalu mereka kembali ke wisma seperti biasa.

Tentu saja setelah membaca surat itu Lulu tidak bisa tidur. Bantal yang dia pakai basah oleh air mata. Kini yang ada dalam pikirannya hanyalah kematian. Malaikat pencabut nyawa begitu dekat dengannya yang dia tahu tentang AIDS hanyalah kematian. Penyakit kotor, kutukan dan pengucilan. Sejak hari itu hingga seminggu lebih dia jarang keluar kamar. Kerjaanya merenung, menangis dan hanya bisa menatap nasib.
Tepat sebulan setelah dia dinyatakan positif HIV/AIDS. Lulu mengambil jalan pintas dengan cara meneguk cairan pembasmi serangga dan obat nyamuk bakar. Dengan cara bisa mengakhiri hidupnya tapi sayang tuhan berkehendak lain.

Dia tidak mati selama seminggu. Dia malah tergeletak dirumah sakit merauke setelah mencoba bunuh diri. Bukan Cuma sampai itu saja usahanya. Dia sudah mencoba dua kali untuk bunuh diri dan tetap saja tuhan masih memberikan kehidupan untuknya. Masih memberi kesempatan yang lebih baik untuknya.

Berkat kesabaran teman – temannya dan beberapa petugas yang memberi pemahaman HIV/AIDS Kepadanya. Dan dia juga banyak sharing dengan teman – teman yang bernasib sama. Dia bergabung di yayasan merauke support group. Dia mulai sering dilibatkan dalam kegiatan apapun. Dia juga pernah bicara diforum publik. pada saat malam renungan nusantara pada tahun 2004 itu pertama kalinya dia berbicara terbuka didepan publik.

Hari – hari berikutnya dia disibukkan dengan kegiatan yayasan merauke support group. Dia berusaha menambah pengetahuan tentang HIV/AIDS. Membagi pengalaman. Sehingga kondisi ini membuat teman – temannya percaya akan perubahan Lulu. Kegitan ini membuatnya terdengar hingga kampung halaman.

Sampai suatu hari dia pulang ke kampung halaman untuk bertemu anak semata wayangnya. Tapi bukan sambutan yang manis didapatkan saat dia pulang. Melainkan pertanyaan macam – macam seperti apakah kamu kerja di tempat pelacuran. Sampai benarkah kalau Lulu mengidap HIV/AIDS. Semua pertanyaan itu jawab jujur oleh Lulu. Ibunya akhirnya melontarkan kata – kata “ Ibu lebih baik kehilangan anak yang kena HIV/AIDS “. Kata – kata itu sangat menyakitkan. Ibu Lulu itu tau statusnya yang sebenarnya dari mulut teman Lulu yang berbicara langsung pada Ibunya. Dia juga tidak sempat menemui anaknya karena anaknya sudah tiada lagi di dunia ini.

Akhirnya dia ke Jakarta dan menumpang di yayasan Jakarta selama satu minggu. Dia banyak belajar dari yayasan itu tentang HIV/AIDS disana.  Banyak hal yang yang bisa dia petik  sebagai pelajaran. Tapi alangkah baiknya jika pengetahuan ini dia sebarkan keseluruh daerah lain ujarnya. Setelah berdiskusi dan akhirnya memutuskan untuk ke Jayapura.

Di Jayapura tepatnya tahun 2005. Dia mulai bergabung di kelompok dukungan sebaya jayapura. Dia banyak sharing dengan teman – teman senasib dan menjalani terapi kembali disana.

Tahun 2006 Lulu mulai menginjakan kaki di Samarinda. Dia sempat menjadi pembantu rumah tangga selama satu tahun dan sampai sekarang seisi rumah tidak tahu tentang keberadaan dia sebenarnya. Sekarang selain dia mempunyai pekerjaan baru, dia juga masih aktif di berbagai kegiatan tentang HIV/AIDS disamarinda.

Dan dia juga membentuk kelompok dukungan sebaya atau KDS Mahakam plus. Kelompok itu dibentuk oleh Lulu dan teman – temannya dalam beberapa elemen seperti PMI, PKBI, KPA dan pihak rumah sakit. Selain sebagai kordinator mahakam plus, dia sebagai konselor sebaya.

Lalu ketika saya bertanya apakah ada harapan mbak Lulu selama tinggal di Samarinda ? apakah ada yang ingin disampaikan kepada kota tercinta ini. Mbak Lulu tersenyum lalu mulai berbicara lagi.

Harapan Lulu kepada warga samarinda khususnya para remaja. Hindarilah sex bebas karena itu bisa beresiko HIV/AIDS. Juga jarum suntik bergantian. Juga kepada pemerintah untuk bantuannya. Selama ini mana ? masa kalah dengan Anjal ujarnya. jangan melulu dengan obat. Emang HIV/AIDS ada obatnya ?

Juga sediakanlah rumah singgah buat kami. Masa kita kalah sama daerah lain yang memiliki rumah singgah. Karena salah satu dari saya bila datang dari luar kota larinya bakal kemana katanya sambil penuh harapan.

Setelah berkata seperti itu, saya bertanya lagi apa yang membuat mbak bisa kuat menjalani hidup ini ? dia tersenyum lalu berkata.

“  saya sedang menikmati sisa hidup ini dan teruslah melihat kedepan walaupun sesekali  boleh liat kebelakang tapi jangan melihat kebelakang terus “

Saya terdiam mendengar itu lalu saya iseng bertanya kepadanya “ kalau liat kebelakang terus kenapa mbak ? lalu dia menjawab “ bisa ketabrak “ dan kami tertawa bersama sekaligus menutup obrolan kami.







READ MORE - Kisah perjalanan seorang ODHA di Samarinda.

About Me

Foto saya
Samarinda, Indonesia
Tulisan saya sudah diantologikan antara lain : Samarinda Bekesah (NulisBuku 2013) Samarinda Under Attack (leutikaprio 2013)

Karya Terbaru


Followers

hit counter

Website counter

Klik Indonesia