Jurnalist Karbitan

Kamis, 19 Juli 2012

|
dulu waktu Simulasi Diplomasi " Sidang ASEAN SUMMIT ke-19 " di kampus, saya sempat dapat jabatan sebagai Jurnalist Indonesia, kok bisa ???

Itu karena kelompok saya terpilih sebagai kelompok Indonesia dan tanpa basa - basi kelompok saya langsung menunjuk saya sebagai jurnalist karena dulunya saya sempat menjadi wartawan di sebuah majalah.

sebenarnya gak sulit jadi jurnalist di tugas kali ini, karena waktu simulasi berlangsung saya dan kawan - kawan yang juga sebagai perwakilan jurnalist di negaranya masing - masing terbilang santai. karena hanya berfoto ria saja dan kadang sok sibuk biar keliatan keren.

sebenarnya tugas paling rumitnya ialah menuliskan beritanya dengan format koran dan besok pagi berita harus terbit dengan cara tertempel di mading kampus ujar sang dosen. nah, disinilah mulai terasa pertanggung jawaban saya atas jabatan saya.

Jurnalist Karbitan


Suasana di kota santri



Kamilah Jurnalist Karbitan



Jadi setelah bersusah payah mengerjakan tugas yang luar biasa bikin sakit kepala ini, maka terbitlah tulisan saya mengenai simulasi ASEAN tersebut, dan koran yang terpilih ialah Kompas karena saya perwakilan kelompok negara Indonesia jadi harus memilih koran dari perwakilan Indonesia juga :p . sengaja menaruh di blog ini supaya saya bisa mengenangnya sewaktu - waktu :))

KOMPAS

    Nusa dua , bali ( 08/05/2012 ) . kembali digelar konferensi tingkat tinggi ( KTT ) ASEAN Ke 19 , Dimana  mereka membahas isu – isu hangat di regional ASEAN , seperti konflik antara Thailand dan cambodja serta Demokratisasi di Negara Myanmar.
   

   Pertemuan kali ini di hadiri berbagai Negara seperti , Brunei Darussalam , Cambodja , Laos , Malaysia , Myanmar , Philipina , Singapura , Thailand , Vietnam dan negara Indonesia sebagai tuan rumah kali ini.
ASEAN SUMMIT ke-19 ini diresmikan dengan pembukaan oleh bapak Wiwid Riyanto selaku Presiden Republik Indonesia. Dan dilanjutkan dengan pembahasan isu-isu yang sedang menjadi pokok permasalahan dalam ASEAN SUMMIT ke-19.   
Pembahasan konflik antara Thailand dan Cambodja sendiri disertai pro dan kontra dari tiap negara. Sampai akhirnya mendapatkan hasil bahwa dari setiap negara menginginkan perdamaian dari kedua negara tersebut.
Indonesia sendiri menginginkan Kuil Preah vihear menjadi warisan dunia dan menjadi tempat wisata, sedangkan juru bicara negara Filiphina mengatakan “mendukung penuh Indonesia karena kami sendiri menginginkan penyelesaian konflik kedua negara dan kami bersedia membantu kedua negara dalam aspek perdagangan, agar tercapainya perdamaian dalam ASEAN” ungkap Rio Rusandi.

Menanggapi hasil isu tersebut, akhirnya Thailand dan Cambodja ingin mengadakan pertemuan bilateral selanjutnya terkait isu tersebut.
Sedangkan Menanggapi Isu Demokratisasi di Myanmar, Filiphina mendukung adanya demokratisasi di Myanmar agar masyarakat di myanmar mendapatkan kebebasan terlepas dari masa otoriter dan ancaman militer yang ada selama ini. ,
Pemerintah Laos mendukung sepenuhnya atas upaya negara Myanmar untuk mendemokrasikan diri, yang sebelumnya di kuasai oleh rezim militer. Mentri Luar negeri Laos mengatakan, kami mendukung sepenuhnya demokratisasi di Myanmar, dan berharap peningkatan kerjasama dalam bidang pendidikan dan lainnya.

Pada Konfrensi kali ini menghasilkan keputusan, dari setiap Delegasi  yang hadir menginginkan adanya perdamaian antara kedua negara tersebut, dengan syarat agar di wilayah tersebut di jadikan warisan dunia dan akan dibangun tempat wisata yang akan dikelola oleh kedua negara tersebut.
Mengenai isu Demokratisasi di Myanmar, semua delegasi mengharapkan tercapainya Demokrasi yang selama ini dikuasai oleh pihak otoriter Myanmar. (TN)


1 komentar:

aprie mengatakan...

wuih kereeenn....simulasinya...

Posting Komentar

About Me

Foto saya
Samarinda, Indonesia
Tulisan saya sudah diantologikan antara lain : Samarinda Bekesah (NulisBuku 2013) Samarinda Under Attack (leutikaprio 2013)

Karya Terbaru


Followers

hit counter

Website counter

Klik Indonesia