Saya pernah punya mantan

Rabu, 01 Mei 2013

|
Oleh Theo Nugraha.
Editor Nia Miranti

Memasuki bangku kuliah saat semester pertama saya melihat banyak sekali cewek-cewek di kelas yang bening-bening kayak kaca spion. Tapi itu tidak membuat saya tergiur. Kenapa ? karena saya baru saja putus sama mantan saya kemarin.


Tapi karena wajah saya yang pas-pasan, banyak yang menganggap saya tak pernah pacaran. Padahal saya cukup laku kok. Nyatanya kalau saya pulang saat subuh, banyak banci-banci yang teriak-teriak memanggil saya.

“ mas, ayo mas, gratis “

“ sialan, coba bilang dari tadi kek “

Atau pernah temen saya bertanya

“ The, kamu pernah punya mantan gak? “

“ pernah “

“ kasihan dia “

“ ....”

Asal kalian tahu ya, saya juga pernah punya mantan walaupun cuma sekali. Sebelum menceritakan mantan saya, alangkah baiknya saya mengenalkan diri dulu.

Nama : Theo Nugraha

Pekerjaan : Tukang Tidur

Hobby : Terkunci di WC

Ok, ini dia ceritanya, awalnya dulu waktu kelas empat SD, saya dapat salam dari seorang teman. “The, ada yang suka sama kamu tuh,” katanya. “Dia dulu se-TK sama kamu. Namanya Bella. Nama panjangnya Bella di celana,” ujar temen saya. Ya, karena dulu masih SD, masih unyu, masih polos, makan masih pakai piring gak pakai gelas. Akhirnya saya terima aja.

Akhirnya kami pacaran. Pacaran yang gak pernah ketemu. Pacaran yang cuma minta salamkan. Sampai akhirnya kami lupa sendiri kalau kami pernah pacaran. Tapi pada masa itu kelihatan indah banget buat kami. Duile.

Menginjak kelas tiga SMA, waktu lagi nulis status di facebook (saat itu belum kenal twitter) saya gak sengaja ketemu dia lagi di dunia maya. Akhirnya saya menyapa dia kembali. Alhasil, kita bertukar nomor hape melalui chat facebook. Untung kami tidak bertukar jati diri saat itu.

“ Wah, Theo masih ingat ya? “

“ Masih, kalau gak salah dulu TK kita pernah pacaran kan ? “

“ Iya, tapikan itu dulu “

Tapi, setelah melalui banyak pembicaraan lewat telpon dan sms. Juga kadang bertemu terus jalan-jalan santai akhirnya kami pacaran (lagi). Kali ini bisa dibilang pacaran beneran. Kalau dipikir-pikir cerita saya sudah kaya film -film korea. Di mana cinta lamanya bertemu kembali tapi akhirnya berakhir sedih karena cowoknya lebih menyukai sesama jenis. Apaan ini !!!

Bella, lebih muda setahun dari saya. Dia kelas dua sedangkan saya kelas tiga. tapi karena muka saya boros. Dia terlihat jalan sama tukang ojek kalau jalan sama saya.

Wajahnya seperti personel Cherrybelle sedangkan saya seperti cherry busuk. Tapi itu tidak membuat dia malu. Dia menerima saya apa adanya, sedangkan saya menerima dia karena sering traktir saya. Impas lah sudah.

Memasuki awal-awal pacaran. Kami bahagia sekali. Saya serasa ada yang memerhatikan. Begitu juga dia. Kami juga sering main gombal-gombalan.

“ bapak kamu kerja dibengkel ya “

“ kok tau ? “

“ pantas mukamu kaya oli “

Akhirnya saya sukses dimusuhi selama seminggu. Sebenarnya saya terjangkit virus gombal bapak kamu itu dari adek semata wayang saya. Ceritanya pas saya baru pulang ke rumah dari sekolah. Sang adek sudah ada berkacak pinggang di depan pintu sambil berkata.

“ Theo, Bapakmu, Bapakku juga ya? “

“ kok tau “

kesimpulannya adek dan kakak sama bodohnya…

Tapi si Bella gak lama kok ngambeknya buktinya minggu depannya kami jalan-jalan ke mal. Dan layaknya orang pacaran. Dia peluk saya dengan erat di setiap perjalanan kami. Saya juga gak mau kalah, akhirnya saya peluk motor saya dan akhirnya kami jatuh.

Setelah mendirikan motor yang jatuh diakibatkan kebodohan saya. Kami memulai perjalanan kembali. Di perjalanan dia memulai pembicaraan.

“ Yank, siapa sih cewek yang pertama kali kamu bonceng? “

“ Ya, kamulah “

“ ah, kamu… (sambil mencubit saya)“

“ kamu juga ah, sambil membalas cubitan dia “

‘dan akhirnya motor kami jatuh lagi karena sibuk main cubit-cubitan \m/

Sesampai di mal saya suruh dia pegang handphone saya sambil berkata

“ fotokan aku dong “

“ buat apa?“

“ buat lihatkan anak-anak kita, ini loh foto bapaknya masih muda “

Dan sepanjang koridor mal dia selalu berkata I love u. Saya juga membalas I love u too sambil menatap cewek-cewek cantik yang lain.

Saat memasuki lantai tiga mal. Dia masih menggandeng saya dengan erat. Jujur saya bingung sekaligus gugup. Akhirnya saya membalasnya. Dengan menggandengnya dengan erat tapi dia menyadarkan saya kalau saya salah gandeng. Yang saya gandeng bukan dia. Melainkan satpam di mal.

Di lantai tiga. kami memilih untuk nonton film Indonesia. Bukan, bukan karena kami suka film Indonesia. Melainkan Cuma film ini yang tidak antre. Kami tidak menonton film hantu

Karena banyak adegan joroknya. Saya takut dia terabaikan. Dan saya bisa ketahuan kalau sebenarnya mesum.

Saat memasuki bioskop yang gelap itu saya sengaja bawa senter. Tapi kemudian ditegur pacar saya katanya kamu itu bikin malu aja. “Kenapa gak sekalian bawa tenda aja biar kita kemping,” tanyanya. “Aku malas kemping di sini,” ujarku. “Kenapa?” tanyanya lagi. “Ya, lebih baik aku kemping di hati kamu,” gombal saya. “So sweet,” ujarnya sambil tersipu. Kemudian terdengar suara orang muntah sebioskop.

Tidak lama dia berkata

“ kenapa kita tidak duduk ditengah “

“kenapa ? kamu gak suka duduk di ujung“

 “gak sih, emang kenapa duduk di ujung?“

“ supaya gak muntah aja, aku takut mabuk “

“Kenapa gak sekalian duduk depan aja. Kamu kira kita naik bus?”

Tidak lama film dimainkan. Dan sudah memasuki pertengahan film. Sebenarnya saya sengaja bawa dia ke bioskop untuk dapat ciuman dari dia. Tapi, bagaimana mau dapat ciuman dari dia. Kalau film yang kami saksikan “ emak pengen naik haji.

“gagal total “

Sebenarnya bukan Cuma itu pengalaman yang saya ingat. Dulu juga waktu kami janjian mau makan siang. Dia lama banget datangnya. Saya sudah menghabiskan tiga teh es sekaligus air kobokan. Akhirnya setelah saya telusuri. Ternyata dia kecelakaan di tengah jalan menuju tempat dimana kita janji untuk makan siang.

Kamu kenapa? ujar saya. Tapi bukannya dia menjawab. Eh, dia malah pingsan. Dan saya sebagai pacarnya bukannya nolong dia. Malah saya biarkan dia pingsan di tengah jalan. Sampai akhirnya warga yang menolongnya dan membawanya ke tepi sumur. Eh, ke tepi jalan.

Majikannya ya mas? kata penduduk setempat. Sialan pacar saya tuh kata saya di sela-sela kegugupan. Akhirnya dia siuman dan dia jemput papahnya naik mobilnya untuk pulang. Sedangkan motornya diiklaskan aja buat penduduk setempat. Ya, gak lah ada kakaknya yang ambil.

Bukan Cuma itu yang saya ingat.

Dulu juga waktu berduaan bersamanya. Saya bermain gitar dan dia disamping saya dengan terpaksa mendengarkan. Saya memainkan lagu secondhand serenade – your call. Dan tentunya tanpa nyanyian. Saya tak ingin membuatnya pingsan untuk kedua kalinya.

Tidak lama saat saya memainkan lagu, dia memotongnya dengan perkataan “ suka “

“ suka ? suka sama permainan gitarku ? “

“ bukan, sama lagunya “

“ oh “

Saya memang selalu gagal romantis.

Semakin lama, semakin tidak harmonis. Saya didiamkan selama dua bulan tanpa kabar atau kepastian. Saya bingung. Saya ini masih pacarnya atau tidak. Saya sedih bukan karena saya didiemin tapi gara-gara pacaran sama dia, saya berani menolak Nikita Mirzani.

Sampai akhirnya setelah menunggu kepastian kami masih pacaran atau tidak. Akhirnya saya dapat kabar kalau kami harus mengakhiri hubungan ini. Tentu sebagai manusia saya sedih. Saya masih ingat saat itu saya berada di rumah temen. Temen-temen saya asyik berteriak–ria sambil nonton bola. Sedangkan saya sibuk di pojokan dengan hati yang kalut. Tidak lama air mata jatuh. Saya menangis. Saya sadar itu. Saya merasa gagal sebagai cowok karena mengeluarkan air mata. Tapi kalau itu membuat saya lebih baik, kenapa tidak.

Bagi cewek-cewek yang baca. Seorang cowok sampai menangisi kepergianmu itu bukan karena dia cengeng tapi itu langkah terakhir untuk membuatmu kembali.

Paginya saya pulang ke rumah dengan tertunduk lesu. Ibu saya memerhatikan itu. Lalu dia berkata kenapa kamu menunduk murung? Ada uang jatuh ya? Saya tidak menggubris perkataan itu. Yang saya tahu aku langsung masuk ke kamar dan membanting pintu itu kuat – kuat. Praaak suara pintu itu say banting. Tapi gak sampai tiga detik saya membuka pintu itu lagi karena tangan saya terjepit lalu saya tutup pintu itu lagi, kali ini pelan-pelan.

“ tok – tok “

“ siapa “

“ sayang, kenapa kamu langsung masuk kamar? cerita dong sama mama “

“ gak mau, pokoknya Theo gak mau keluar, gak mau mandi tapi mau makan “

“ kamu kenapa sih sayang? cerita dong sama mama “

Akhirnya saya keluar kamar dan menceritakan keluh kesalku. Ibu saya berkata itu adalah hal yang wajar. Jangan terlalu disesali. Masih banyak kok cewek yang sial yang mau jadi pacarmu kelak. Dan aku mengangguk dengan mantap. Dan mulai memuliakan diri atau bahasa gaulnya move on.

Nah, makanya di bangku kuliah ini saya gak mau cepat-cepat cari pacar. Saya masih belum siap untuk patah hati kembali. Bukankah move on itu bukan sesuatu paksaan. Ketimbang move on sama orang yang salah.

Tapi tidak lama ada sesosok wanita dengan berambut ikal memasuki kelas dengan bak bidadari nyasar di pasar. Siapa cewek itu ? kok saya penasaran sama dia. Apakah ini yang disebut jatuh cinta pada pandangan pertama atau dia kah sosok yang tepat untuk membuat saya move on. Mungkin betul kata ibu saya. Sepertinya dia cewek sial yang berikutnya.














1 komentar:

Dwi Yanto Padli Saniman mengatakan...

T.O.P bgt... like this.

Posting Komentar

About Me

Foto saya
Samarinda, Indonesia
Tulisan saya sudah diantologikan antara lain : Samarinda Bekesah (NulisBuku 2013) Samarinda Under Attack (leutikaprio 2013)

Karya Terbaru


Followers

hit counter

Website counter

Klik Indonesia